Monday, September 12, 2016

Kamu Yang Tidak Aku Miliki

“Jadi yang semalam itu?” ujar seorang gadis bertubuh mungil, beberapa kali dia membetulkan kacamata nya yang melorot sampai ke hidungnya. Dia agak tidak nyaman dengan suasana yang ada.
Di depannya duduk seorang laki-laki, bad boy sedang menyeruput caramel macchiato. “Apa?”
“Apanya yang apa? Yang kita lakukan kemarin itu, mau dianggap bukan apa-apa lagi?”
“Ntahlah.”
Gadis itu mendengus mendengar ucapan dari si laki-laki. Pikirannya terus saja berputar-putar mengenai kejadian malam itu, hanya hal sepele memang 'sebuah ciuman' namun membuat si gadis berpikir bagaimana perasaan si laki-laki padanya.
“Ya sudah kalau begitu.” Si gadis beranjak dari tempat duduknya, wajahnya menyiratkan betapa frustrasinya dia.
Namun si laki-laki menahan tangannya lalu menatap mata si gadis, dalam. “Ya sudah?”
“Lalu aku harus bagaimana, Rud?” si gadis tampak lebih frustrasi dari sebelumnya. “kamu suka padaku, tidak?” Tanya si gadis itu lagi. Rudi, laki-laki yang duduk dengan tenang didepannya hanya menatap kosong. Tidak bergeming sama sekali.
Gadis itu melepaskan tangan Rudi yang masih melingkari tangannya. “Sudahlah Rud, aku lelah.”
“Rhe, seperti ini saja tidak apa-apa kan?” Tanya Rudi. Rhea, si gadis tersebut hanya menatap Rudi. Airmatanya sudah menumpuk pada matanya, dia menahan tangis. “Kamu marah?”
“Mana bisa aku marah sama kamu.” Ujar Rhea yang langsung meninggalkan Rudi sendirian.



Rhea
Aku hanya dapat melihatnya dari jauh. Iya dia, Rudi. Kami dekat sebagai teman, namun kami hanya saling sapa jika bertemu.
Aku mengagumi nya dalam diam. Dapat melihatnya saja, sudah sangat cukup bagiku.
Tapi dia itu hmmm bad boy, ntahlah mungkin karena sikapnya sangat baik dan perhatian kepada setiap gadis. Rudi itu bagaikan sosok yang tidak bisa aku gapai walaupun dia ada disisiku.
Dan aku menyukainya.
Pernah satu kali aku bertanya padanya, apakah aku hanya sekedar teman saja baginya apa tidak. Dan jawabannya membuatku bergetar, ntah membuatku marah ataupun senang. Dia berkata, “Kalaupun lebih, aku tidak bisa membayangkan apa kata orang nanti. Responnya akan berlebihan, Rhe.”
Ironi, bukan?
Aku bahkan menunggunya ketika dia beberapa kali berganti pasangan dan memperhatikan apa yang terjadi dalam hubungan mereka. Aku selalu memastikan bahwa Rudi selalu baik-baik saja.
Ingin aku cemburu tapi aku ini siapa?
Melihatnya terlalu dekat membuatku sakit, namun tidak melihatnya juga membuatku sakit.
Aku harus bagaimana? Melepaskannya begitu saja?


Rudi
Aku selalu tersenyum kecil ketika melihat Rhea diam-diam memerhatikanku. Dia akan selalu panik ketika tiba-tiba aku menoleh. Gadis itu, selalu mempunyai alasan untuk aku merengkuhnya.
Aku mengagumi nya dalam diam. Dapat melihatnya saja, sudah sangat cukup bagiku.
Dia rapuh namun selalu dapat berdiri sendiri dengan kuatnya. Rhea itu bagaikan sosok yang tidak bisa aku rengkuh walaupun dia ada disisiku.
Dan aku menyukainya.
Bahkan aku juga mengetahui bahwa dia menyukaiku.
Ntahlah sudah beberapa kali aku menyakiti dia karena aku selalu saja berganti-ganti pacar dan dia selalu menunggu.
Aku terlalu jahat, bukan?
Pernah satu kali dia bertanya padaku, apakah dia hanya sekedar teman saja bagiku apa tidak. Ingin rasanya aku berkata, “Aku juga menyukaimu, lebih dari kamu menyukai aku.” Namun, yang keluar dari bibirku hanya ucapan bodoh yang sekarang aku sangat menyesal mengatakannya.
Melihatnya menungguku membuatku sakit karena aku ingin sekali merengkuhnya dan berkata “Aku selalu ada disini”.
Aku harus bagaimana? Memantaskan diriku walaupun aku sudah berkali-kali menyakitinya?
Aku terlalu takut, untuk kehilangan dia dan egoku.
.
.
.
.
Karena kamu yang tidak dapat aku miliki.

 

No comments:

Post a Comment