“Jadi
yang semalam itu?” ujar seorang gadis bertubuh mungil, beberapa kali dia
membetulkan kacamata nya yang melorot sampai ke hidungnya. Dia agak tidak
nyaman dengan suasana yang ada.
Di
depannya duduk seorang laki-laki, bad boy
sedang menyeruput caramel macchiato. “Apa?”
“Apanya
yang apa? Yang kita lakukan kemarin itu, mau dianggap bukan apa-apa lagi?”
“Ntahlah.”
Gadis
itu mendengus mendengar ucapan dari si laki-laki. Pikirannya terus saja
berputar-putar mengenai kejadian malam itu, hanya hal sepele memang 'sebuah ciuman' namun membuat si gadis
berpikir bagaimana perasaan si laki-laki padanya.
“Ya
sudah kalau begitu.” Si gadis beranjak dari tempat duduknya, wajahnya
menyiratkan betapa frustrasinya dia.
Namun
si laki-laki menahan tangannya lalu menatap mata si gadis, dalam. “Ya sudah?”
“Lalu
aku harus bagaimana, Rud?” si gadis tampak lebih frustrasi dari sebelumnya. “kamu
suka padaku, tidak?” Tanya si gadis itu lagi. Rudi, laki-laki yang duduk dengan
tenang didepannya hanya menatap kosong. Tidak bergeming sama sekali.
Gadis
itu melepaskan tangan Rudi yang masih melingkari tangannya. “Sudahlah Rud, aku
lelah.”
“Rhe,
seperti ini saja tidak apa-apa kan?” Tanya Rudi. Rhea, si gadis tersebut hanya
menatap Rudi. Airmatanya sudah menumpuk pada matanya, dia menahan tangis. “Kamu
marah?”
“Mana
bisa aku marah sama kamu.” Ujar Rhea yang langsung meninggalkan Rudi sendirian.
Rhea
Aku
hanya dapat melihatnya dari jauh. Iya dia, Rudi. Kami dekat sebagai teman,
namun kami hanya saling sapa jika bertemu.
Aku
mengagumi nya dalam diam. Dapat melihatnya saja, sudah sangat cukup bagiku.
Tapi
dia itu hmmm bad boy, ntahlah mungkin
karena sikapnya sangat baik dan perhatian kepada setiap gadis. Rudi itu
bagaikan sosok yang tidak bisa aku gapai walaupun dia ada disisiku.
Dan
aku menyukainya.
Pernah
satu kali aku bertanya padanya, apakah aku hanya sekedar teman saja baginya apa
tidak. Dan jawabannya membuatku bergetar, ntah membuatku marah ataupun senang. Dia
berkata, “Kalaupun lebih, aku tidak bisa membayangkan apa kata orang nanti. Responnya
akan berlebihan, Rhe.”
Ironi,
bukan?
Aku
bahkan menunggunya ketika dia beberapa kali berganti pasangan dan memperhatikan
apa yang terjadi dalam hubungan mereka. Aku selalu memastikan bahwa Rudi selalu
baik-baik saja.
Ingin
aku cemburu tapi aku ini siapa?
Melihatnya
terlalu dekat membuatku sakit, namun tidak melihatnya juga membuatku sakit.
Aku
harus bagaimana? Melepaskannya begitu saja?
Rudi
Aku
selalu tersenyum kecil ketika melihat Rhea diam-diam memerhatikanku. Dia akan
selalu panik ketika tiba-tiba aku menoleh. Gadis itu, selalu mempunyai alasan untuk
aku merengkuhnya.
Aku
mengagumi nya dalam diam. Dapat melihatnya saja, sudah sangat cukup bagiku.
Dia
rapuh namun selalu dapat berdiri sendiri dengan kuatnya. Rhea itu bagaikan
sosok yang tidak bisa aku rengkuh walaupun dia ada disisiku.
Dan
aku menyukainya.
Bahkan
aku juga mengetahui bahwa dia menyukaiku.
Ntahlah
sudah beberapa kali aku menyakiti dia karena aku selalu saja berganti-ganti
pacar dan dia selalu menunggu.
Aku
terlalu jahat, bukan?
Pernah
satu kali dia bertanya padaku, apakah dia hanya sekedar teman saja bagiku apa
tidak. Ingin rasanya aku berkata, “Aku juga menyukaimu, lebih dari kamu
menyukai aku.” Namun, yang keluar dari bibirku hanya ucapan bodoh yang sekarang
aku sangat menyesal mengatakannya.
Melihatnya
menungguku membuatku sakit karena aku ingin sekali merengkuhnya dan berkata “Aku
selalu ada disini”.
Aku
harus bagaimana? Memantaskan diriku walaupun aku sudah berkali-kali
menyakitinya?
Aku
terlalu takut, untuk kehilangan dia dan egoku.
.
.
.
.
Karena kamu yang tidak dapat aku miliki.
No comments:
Post a Comment