SAKIT YANG SEMAKIN_Andrew
Malam itu, aku hanya menatap naskah. Aku tidak konsen
untuk pengambilan scene terakhir. Rasa lama yang telah aku kubur dalam-dalam
mulai terkuak lagi. Tiba-tiba saja terdengar suara handphone berdering. Aku
melihat nama yang tertera di handphoneku, Ashley.
“Halo?” ucap seseorang.
“Ashley? Apa kabar?” Suaraku dibuat sedingin mungkin.
“Kau kenapa? Suaramu sedikit aneh?”
“Aku sedang sibuk, nanti aku telepon kau lagi.” Aku
menutup telepon dengan tergesa-gesa.
Kenapa harus saat
ini? Saat rasa ini muncul lagi?
Aku tau ada yang salah pada diriku, juga pada perasaanku
sendiri. Semua ini salahku, aku masih ingat kejadian 6 tahun yang lalu, saat
perasaan yang salah itu datang untuk pertama kalinya.
“Kau punya kekasih?” Tanya Ashley.
“Tidak.” Jawab Andrew cepat.
“Lalu, kau suka pada seseorang?” Tanya Ashley lagi.
“Iya.”
“Siapa?”
“Kau ingin tau? Memang kau mengerti apa tentang masalah
seperti ini? Kau masih kecil tau.” Ucap Andrew.
“Aku penasaran, aku kan adikmu. Aku harus tau siapa yang
akan jadi pendamping kakakku ini. Dan harus aku setujui dulu, baru kau bisa
bersamanya.” Kata Ashley sok bijak.
“Kuyakin kau akan setuju.”
“Apa aku mengenalnya?” Tanya Ashley. Andrew mengangguk.
“Lalu siapa?”
“Kau mengenalnya dengan sangat baik, hmm seseorang
dihadapanku.” Andrew mengedipkan sebelah matanya.
Ashley memandang sekitarnya, tak ada siapapun. “Siapa?
Hmm aku?” Tanya Ashley polos.
“Kau orangnya, gadis kecil.”
“Kau bercanda. Kau kan pasti menyukaiku, aku kan
adikmu.”
“Terserah padamu sajalah.” Andrew tersenyum, sebuah
senyum yang lain.
“Besok kita akan kembali ke Paris. Kau sangat butuh
istirahat, kau terlihat berantakan.” Kata seorang pria menasihati, Andrew hanya
mengangguk. “Hmm aku tau, rasa itu datang lagi kan?”
“Seharusnya aku memendamnya, Mike. Rasa itu salah,
sangat salah.” Kataku menunduk.
Mike mengerti, sejak di Juilliard Andrew sering
bercerita tentang Ashley secara khusus. Mike dan Andrew bersahabat, dan kini
Mike dipercaya menjadi manager Andrew.
Hanya Mike yang tau apa yang sebenarnya terjadi, sakit pada Andrew
perlahan akan benar-benar membunuhnya.
Handphoneku berdering, tumben sekali mom meneleponnya
biasanya dia sangat sibuk. Apa ada hal yang sangat penting? Mom sangat sayang
pada Ashley, tapi dia tidak bisa menunjukkannya karena kesibukannya yang
berlebihan. Apa ini tentang Asley?
“Andrew?”
“Iya mom?”
“Kau sudah kembali ke Paris?”
“Sudah, kemarin saja aku baru sampai.”
“Ashley akan ke Paris, berlibur. Kuharap kau mau
memberinya tumpangan.” Kata Mrs.
Thompson.
“Paris? Dengan siapa?” Ujarku kaget.
“Ntahlah, yang dia katakan hanya ingin kesana.”
“Baiklah.”
“Kuharap bulan depan kalian semua bisa ke LA
untuk menonton konserku. Dan kau, luangkan waktumu untuk Ashley.” Perintah Mrs.
Thompson.
“Iya mom, aku tau.” Aku pasrah.
“Kau kenapa?”
“Ha? Memangnya aku kenapa?” Tanyaku bingung.
“Ashley bilang ada yang salah padamu, ya ketika dia
meneleponmu. Dia sangat khawatir.” Jelas Mrs. Thompson.
“Terlalu banyak aktifitas, aku hanya lelah.”
“Kalau begitu kau harus banyak istirahat. Aku harus
pergi, manager baruku sangat berisik. Aku dilarang melakukan hal yang tidak
penting, termasuk menelepon anakku sendiri.”
“Mungkin kau harus cepat menggantinya.”
“Yaa, mungkin nanti. Sampai nanti. Daaaah.” Klik,
telepon dari Mrs. Thompson dimatikan. Pasti Ashley sangat panik sampai mom
meneleponku, gumamku.
“AAAAAAAAAAA, rasanya aku ingin mati untuk sebulan ini
saja.” Teriakku kesal.
Tiba-tiba saja ada sebuah majalah yang mendarat di
kepalaku, aku pun menoleh dan tersentak kaget.
“Kau mabuk?” Tanyaku heran.
“Aku? Tidak, aku dengar kau sudah
kembali jadi aku putuskan untuk berkunjung. Bertemu denganmu, kekasihku. Haha.
Oke, aku lelah. Aku ingin beristirahat.” Ucap seorang gadis yang langsung
melenggang masuk ke apartemen Andrew.
“Kekasih? Mantan! Kau harus
tekankan itu.”
“Aku lelah, tak bisakah kau izinkan
aku beristirahat?”
“Cukup! Kau mabuk. Pulanglah. Aku
akan panggilkan taksi. Jangan bersikap seperti ini, Rowena.”
“Aku? Kenapa?”
“Kau harus pulang!” Teriakku, tapi
Rowena jatuh pingsan. Dengan enggan aku angkat tubuh Rowena ke kasurku. Malam
ini, aku terpaksa untuk tidur di sofa. Rowena hanya jadi benalu .
Dulu ketika baru saja lulus dari
Juilliard, aku bertemu dengan seorang gadis. Rowena, seorang penyanyi asal
Jerman. Aku dan Rowena memulai karir mereka bersama. Rowena yang dulu adalah
Rowena yang sangat polos sampai akhirnya ada sebuah label yang datang padanya
untuk menawarkan sebuah kontrak. Aku tidak pernah lupa akan berbinarnya mata
Rowena saat menandatangani surat kontrak itu.
Pada awal kariernya, Rowena tinggal
satu apartemen denganku. Sejak itu kami
menjadi layaknya sepasang kekasih. Tapi, perlahan kebiasaan Rowena berubah.
Tidak ada lagi kertas-kertas lirik tulisannya yang berserakan, tidak ada lagi
suara nya tengah malam untuk berlatih vokal. Sekarang, hanya ada beberapa
puntung rokok dan botol bir yang berserakan di meja kerjanya. Aku benci melihat
Rowena seperti itu, aku sudah berkali-kali memperingatkannya tapi Rowena terus
membangkang sampai akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Rowena dengan
obsesinya.
Aku terbangun kaget, dering telepon
nya yang mengagetkannya. Pusing.
“Kau dimana?” ucap seseorang.
“Ini siapa?” tanyaku.
“Ini aku, Ashley. Kau melupakanku.”
Mendengus kesal.
“Oh kau. Maaf, aku masih
mengantuk.”
“Alibi. Kau dimana?”
“Pukul berapa ini?” Tanyaku.
“Pukul 9. Cepat bangun, aku didepan
pintu kamarmu.”
“Ha? Dengan siapa?” Tanyaku kaget.
“Hanya aku sendiri.”
Dengan enggan aku melangkah,
sekilas aku melihat ke kamar yang sudah kosong. Rowena sudah pergi,
baguslah.
Aku membuka pintu apartemenku, gadis
itu tersenyum lebar. Senyum yang sudah lama tidak aku tem
ui . Ada sesuatu yang
berdesir dihatiku, sebuah perasaan yang telah lama aku pendam.
“Hei.” Ashley mengibaskan tangannya
di depan wajah Andrew. “Andrew, kau tidak mempersilahkan aku untuk masuk? Kau
tau, disini bisa membuatku beku.”
“Eh iya.” Ucapku gugup. “Silahkan
masuk, apartemen ku berantakan.”
Ashley masuk ke apartemen Andrew,
dia melihat sekitarnya. Nyaman, pikir Ashley.
“Andrew kau sudah bangun? Siapa
yang datang?” Ucap Rowena dari kamar mandi. Tak lama dia keluar hanya
menggunakan handuk. “Hmmp, maaf.” Kata Rowena.
Aku mendesah pelan. Rowena dan
Ashley tampak kaget akan kehadiran masing-masing. Wajah Ashley perlahan memerah
menahan marah.
“Sepertinya kehadiranku tidak
tepat. Maaf mengganggumu, lain kali saja kita bertemu ya Andrew.” Ucap Ashley
tiba-tiba, senyumnya tampak sangat dipaksakan. Lalu Ashley melangkah pergi, aku
menggenggam tangan Ashley untuk mencegahnya pergi tapi Ashley bersikeras.
Ashley sangat kecewa, setelah 2
tahun Andrew pergi dia malah dibuat sakit oleh Andrew. Sepele memang, tapi
sangat sakit rasanya. Tak terasa airmata Ashley mengalir, Ashley sendiri juga
tidak tau dia kenapa. Perasaan itu datang tiba-tiba, berdesir.
“Huuuuuaaaaaaa, aku ini kenapa?”
ucap Ashley terisak.

