Wednesday, January 29, 2014

Thompson's Story #2


SAKIT YANG SEMAKIN_Andrew

 
             Malam itu, aku hanya menatap naskah. Aku tidak konsen untuk pengambilan scene terakhir. Rasa lama yang telah aku kubur dalam-dalam mulai terkuak lagi. Tiba-tiba saja terdengar suara handphone berdering. Aku melihat nama yang tertera di handphoneku, Ashley.
             “Halo?” ucap seseorang.
             “Ashley? Apa kabar?” Suaraku dibuat sedingin mungkin.
             “Kau kenapa? Suaramu sedikit aneh?”
             “Aku sedang sibuk, nanti aku telepon kau lagi.” Aku menutup telepon dengan tergesa-gesa.
             Kenapa harus saat ini? Saat rasa ini muncul lagi?
                                                                                 





             Aku tau ada yang salah pada diriku, juga pada perasaanku sendiri. Semua ini salahku, aku masih ingat kejadian 6 tahun yang lalu, saat perasaan yang salah itu datang untuk pertama kalinya.
             “Kau punya kekasih?” Tanya Ashley.
             “Tidak.” Jawab Andrew cepat.
             “Lalu, kau suka pada seseorang?” Tanya Ashley lagi.
             “Iya.”
             “Siapa?”
           “Kau ingin tau? Memang kau mengerti apa tentang masalah seperti ini? Kau masih kecil tau.” Ucap Andrew.
            “Aku penasaran, aku kan adikmu. Aku harus tau siapa yang akan jadi pendamping kakakku ini. Dan harus aku setujui dulu, baru kau bisa bersamanya.” Kata Ashley sok bijak.
             “Kuyakin kau akan setuju.”
             “Apa aku mengenalnya?” Tanya Ashley. Andrew mengangguk. “Lalu siapa?”
         “Kau mengenalnya dengan sangat baik, hmm seseorang dihadapanku.” Andrew mengedipkan sebelah matanya.
             Ashley memandang sekitarnya, tak ada siapapun. “Siapa? Hmm aku?” Tanya Ashley polos.
             “Kau orangnya, gadis kecil.”
             “Kau bercanda. Kau kan pasti menyukaiku, aku kan adikmu.”
             “Terserah padamu sajalah.” Andrew tersenyum, sebuah senyum yang lain.
                                                                                 




  
          “Besok kita akan kembali ke Paris. Kau sangat butuh istirahat, kau terlihat berantakan.” Kata seorang pria menasihati, Andrew hanya mengangguk. “Hmm aku tau, rasa itu datang lagi kan?”
             “Seharusnya aku memendamnya, Mike. Rasa itu salah, sangat salah.” Kataku menunduk.
             Mike mengerti, sejak di Juilliard Andrew sering bercerita tentang Ashley secara khusus. Mike dan Andrew bersahabat, dan kini Mike dipercaya menjadi manager Andrew.  Hanya Mike yang tau apa yang sebenarnya terjadi, sakit pada Andrew perlahan akan benar-benar membunuhnya.






             Handphoneku berdering, tumben sekali mom meneleponnya biasanya dia sangat sibuk. Apa ada hal yang sangat penting? Mom sangat sayang pada Ashley, tapi dia tidak bisa menunjukkannya karena kesibukannya yang berlebihan. Apa ini tentang Asley?
             “Andrew?”
             “Iya mom?”
             “Kau sudah kembali ke Paris?”
             “Sudah, kemarin saja aku baru sampai.”
            “Ashley akan ke Paris, berlibur. Kuharap kau mau memberinya tumpangan.” Kata  Mrs. Thompson.
             “Paris? Dengan siapa?” Ujarku kaget.
             “Ntahlah, yang dia katakan hanya ingin kesana.”
             “Baiklah.”
             “Kuharap bulan depan kalian semua bisa ke LA untuk menonton konserku. Dan kau, luangkan waktumu untuk Ashley.” Perintah Mrs. Thompson.
             “Iya mom, aku tau.” Aku pasrah.
             “Kau kenapa?”
             “Ha? Memangnya aku kenapa?” Tanyaku bingung.
             “Ashley bilang ada yang salah padamu, ya ketika dia meneleponmu. Dia sangat khawatir.” Jelas Mrs. Thompson.
             “Terlalu banyak aktifitas, aku hanya lelah.”
             “Kalau begitu kau harus banyak istirahat. Aku harus pergi, manager baruku sangat berisik. Aku dilarang melakukan hal yang tidak penting, termasuk menelepon anakku sendiri.”
             “Mungkin kau harus cepat menggantinya.”
             “Yaa, mungkin nanti. Sampai nanti. Daaaah.” Klik, telepon dari Mrs. Thompson dimatikan. Pasti Ashley sangat panik sampai mom meneleponku, gumamku.
             “AAAAAAAAAAA, rasanya aku ingin mati untuk sebulan ini saja.” Teriakku kesal.
             Tiba-tiba saja ada sebuah majalah yang mendarat di kepalaku, aku pun menoleh dan tersentak kaget.
                                                                                 





             Kau mabuk?” Tanyaku heran.
         “Aku? Tidak, aku dengar kau sudah kembali jadi aku putuskan untuk berkunjung. Bertemu denganmu, kekasihku. Haha. Oke, aku lelah. Aku ingin beristirahat.” Ucap seorang gadis yang langsung melenggang masuk ke apartemen Andrew.
             “Kekasih? Mantan! Kau harus tekankan itu.”
             “Aku lelah, tak bisakah kau izinkan aku beristirahat?”
           “Cukup! Kau mabuk. Pulanglah. Aku akan panggilkan taksi. Jangan bersikap seperti ini, Rowena.”
             “Aku? Kenapa?”
         “Kau harus pulang!” Teriakku, tapi Rowena jatuh pingsan. Dengan enggan aku angkat tubuh Rowena ke kasurku. Malam ini, aku terpaksa untuk tidur di sofa. Rowena hanya jadi benalu .
             Dulu ketika baru saja lulus dari Juilliard, aku bertemu dengan seorang gadis. Rowena, seorang penyanyi asal Jerman. Aku dan Rowena memulai karir mereka bersama. Rowena yang dulu adalah Rowena yang sangat polos sampai akhirnya ada sebuah label yang datang padanya untuk menawarkan sebuah kontrak. Aku tidak pernah lupa akan berbinarnya mata Rowena saat menandatangani surat kontrak itu.
             Pada awal kariernya, Rowena tinggal satu apartemen denganku. Sejak itu kami menjadi layaknya sepasang kekasih. Tapi, perlahan kebiasaan Rowena berubah. Tidak ada lagi kertas-kertas lirik tulisannya yang berserakan, tidak ada lagi suara nya tengah malam untuk berlatih vokal. Sekarang, hanya ada beberapa puntung rokok dan botol bir yang berserakan di meja kerjanya. Aku benci melihat Rowena seperti itu, aku sudah berkali-kali memperingatkannya tapi Rowena terus membangkang sampai akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan Rowena dengan obsesinya.
                                                                              






             Aku terbangun kaget, dering telepon nya yang mengagetkannya. Pusing.
             “Kau dimana?” ucap seseorang.
             “Ini siapa?” tanyaku.
             “Ini aku, Ashley. Kau melupakanku.” Mendengus kesal.
             “Oh kau. Maaf, aku masih mengantuk.”
             “Alibi. Kau dimana?”
             “Pukul berapa ini?” Tanyaku.
             “Pukul 9. Cepat bangun, aku didepan pintu kamarmu.”
             “Ha? Dengan siapa?” Tanyaku kaget.
             “Hanya aku sendiri.”
             Dengan enggan aku melangkah, sekilas aku melihat ke kamar yang sudah kosong. Rowena sudah pergi, baguslah.
             Aku membuka pintu apartemenku, gadis itu tersenyum lebar. Senyum yang sudah lama tidak aku tem
ui . Ada sesuatu yang berdesir dihatiku, sebuah perasaan yang telah lama  aku pendam.
             “Hei.” Ashley mengibaskan tangannya di depan wajah Andrew. “Andrew, kau tidak mempersilahkan aku untuk masuk? Kau tau, disini bisa membuatku beku.”
             “Eh iya.” Ucapku gugup. “Silahkan masuk, apartemen ku berantakan.”
             Ashley masuk ke apartemen Andrew, dia melihat sekitarnya. Nyaman, pikir Ashley.
             “Andrew kau sudah bangun? Siapa yang datang?” Ucap Rowena dari kamar mandi. Tak lama dia keluar hanya menggunakan handuk. “Hmmp, maaf.” Kata Rowena.
             Aku mendesah pelan. Rowena dan Ashley tampak kaget akan kehadiran masing-masing. Wajah Ashley perlahan memerah menahan marah.
             “Sepertinya kehadiranku tidak tepat. Maaf mengganggumu, lain kali saja kita bertemu ya Andrew.” Ucap Ashley tiba-tiba, senyumnya tampak sangat dipaksakan. Lalu Ashley melangkah pergi, aku menggenggam tangan Ashley untuk mencegahnya pergi tapi Ashley bersikeras.
             Ashley sangat kecewa, setelah 2 tahun Andrew pergi dia malah dibuat sakit oleh Andrew. Sepele memang, tapi sangat sakit rasanya. Tak terasa airmata Ashley mengalir, Ashley sendiri juga tidak tau dia kenapa. Perasaan itu datang tiba-tiba, berdesir.
             “Huuuuuaaaaaaa, aku ini kenapa?” ucap Ashley terisak.

Tuesday, January 28, 2014

Thompson's Story #1

KENANGAN SAAT ITU... _ashley




             Aku hanya ingin kembali menjadi hanya seorang anak 8 tahun dan masih memiliki keluarga yang indah.
             “Rambutmu berantakan.” Kata Roxy.
             “Lalu aku harus apa?” Tanya ku.
             “Tata rambutmu keatas.”
             “Aaaaah sulit, aku tidak bisa ... “ Keluhku.
             “Sini, aku yang rapikan.” Andrew dengan sigap langsung menata rambutku.
             “Kau, waw ini hebat.” Ucapku takjub melihat tataan rambut hasil kerja Andrew.

             Siang itu, ada pameran Mr. Thompson di galeri pribadinya. Banyak tamu yang datang, mulai dari pengamat lukisan hingga para wartawan. Tema pada pameran ini adalah “Life on The Street”. Potret tentang kehidupan di pinggir jalan.
             “Aku benci saat banyak wartawan datang.” Kata Andrew tiba-tiba.
             “Ha? Kau yakin?” Tanyaku kaget, Andrew menggangguk mantap.
             “Tapi, kau akan jadi aktor? Kau pasti akan bertemu wartawan.”
             “Aku benci wartawan, bukan berarti keinginanku menjadi aktor akan terabaikan.” Jelas Andrew.
             “Hmm, oke. Aku mengerti.” Sahutku pura-pura mengerti.
             Saat itu aku, tidak pernah tau apa alasan Andrew membenci wartawan. Bagiku, Andrew sosok kakak yang sempurna. Dia selalu ada untukku, tidak seperti Roxy.  Sejak pameran itu, kami –aku, Ashley, Andrew berlatih mencari bakat kami.  Kami disibukkan untuk berlatih. Sampai akhirnya, Roxy menaruh minat pada cello dan Andrew memang menunjukkan kemampuannya menjadi seorang aktor. Hanya aku yang tidak menaruh minat apapun pada seni.
             Andrew selalu menasihatiku, kalau aku pasti punya bakat yang kuat. Awalnya aku percaya tapi setelah Andrew berniat untuk masuk Juilliard dan meninggalkanku dengan keluarga itu, tekadku perlahan memudar. Roxy tidak pernah jadi sosok kakak yang baik, dia terlalu sibuk dengan cellonya hingga lupa dengan adik kecilnya ini. Hanya Andrew yang sempurna.
             “Kau harus bisa masuk Juilliard, bukan karena nama keluarga Thompson tapi karena bakatmu karena kepercayaan dirimu. Kau pasti bisa, aku yakin itu.” Ucap Andrew sebelum berangkat ke Juilliard.
             Saat hari-hari pertama Andrew di Juilliard, dia selalu mengirimkan pesan bahwa disana sangat menyenangkan. Dia yakin aku akan jadi seseorang yang hebat disana. Akupun jadi jarang pulang kerumah. Aku benci merasa tidak dianggap diantara mereka hanya karena aku tidak tau apapun tentang seni. Ketika aku menginjak 15 tahun, aku mengenal July. Lalu, aku lebih sering menginap di rumah July terkadang juga aku mengajak Sheila.
             Ada perasaan aneh ketika Andrew pergi, ntahlah rasanya sangat sakit. Sheila pernah memperingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengan Andrew. Dekat dalam arti lain, tapi aku percaya. Aku hanya mengiyakan tapi tidak menghiraukannya.
                                                                                 _______________
             Sore itu, Andrew kembali dari Juilliard karena lusa adalah hari kelulusannya. Dia mulai berkemas, aku hanya menatapnya.
             “Aku akan memulai karirku. Setelah kelulusan aku akan ke Paris, ada sebuah managemen terkenal yang telah mengontrakku.” Ujar Andrew memecah keheningan.
             “Kau akan meninggalkan aku lagi kan?” tanyaku. Andrew menggeleng. “Bohong.” Aku berusaha menahan tangisku.
             “2 tahun lagi kau akan masuk Juilliard, aku meninggalkanmu hanya untuk bekerja.”
             “Aku ingin ikut denganmu.” Bujukku.
             “Tidak bisa, bocah kecil.” Andrew mengelus rambutku, lembut. “Lusa adalah hari kelulusanku, aku tidak mau kau terlihat lusuh seperti ini. Suatu saat kau akan dewasa, kau tidak bisa terus bergantung padaku.” Ujar Andrew.
             Aku hanya menunduk, airmataku mengalir. Perasaan itu datang lagi, lebih sakit dari sebelumnya. Setelah Andrew pergi dengan karirnya, aku baru sadar ada yang salah pada diriku dan diri Andrew.

Aku atau Mereka?

Aku tampaknya terlihat seperti sampah
Terbuang
Haha iya terbuang disana sini
Mungkin memang layaknya aku terlihat seperti ini

Monday, January 27, 2014

Antara Mimpi dan Realita #5

27.
Aku menjadi korban
Terikat pada sebuah ranjang
Berada di ruangan putih
Tercium bau menyengat dari obat-obat
Aku mengerjapkan mata
Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya
Aku berusaha memberontak
Lalu mereka yang berpakain putih datang dengan cepat
Menyuntikkan sesuatu sehingga aku semakin melemah
Mataku perlahan menutup
Samar-samar ada bayangan dia dan kedua orangtuaku 
Samar-samar ada dua pribadi yang saling bertentangan 


28. 
Aku tidak bisa membedakannya apa ini sebuah realita atau mimpi 
Tapi aku berada di suatu tempat 
Jauh di sana 
Dengan cahaya yang terang 
Aku tersenyum manis 
Ada sebuah rasa bahagia 
Ada rasa ketenangan 
Nyaman 
Rasanya semua sudah selesai 
Cukup sampai disini 
Membuat sebuah sejarah 
Tanpa meneteskan airmata S
udah bertahan untuk kuat 

29. 
Aku di wawancara dengan segudang pertanyaan bodoh, cuih 
Mereka pikir aku depresi karena kecelakaan itu 
Bodoh, aku malah bahagia karena kejadian itu 
Mereka mengatakan aku mempunyai banyak kepribadian 
Omong kosong 
Mereka mengatakan aku sedang sakit 
Hey, kalian pikir segitu bodohnya aku? 
Aku tahu kalian mengganggapku gila 
Pandangan kalian mengatakan semuanya 
Sudah kukatakan bukan? 
Aku kacau, sangat kacau 
Bukan gila 
Aku waras, penuh dengan logika 
Tapi hanya mengikuti emosi yang memuncak 

30. 
Aku disini 
Duduk di balik sebuah jeruji 
Dengan tangan terikat 
Layaknya seorang sandera 
Aku tersenyum sinis 
Lelah untuk memberontak 
Aku sisi yang jahat 
Mengambil alih dari tubuh ini 
Menciptakan adanya kekuatan untuk bisa menghadapi segalanya 
Berusaha untuk kabur 
Lenyap Memutar otak 
Aku tertawa lepas 
Untuk segala kepenatan yang ada 
Untuk membebaskan jiwa yang terkunci 
Untuk menjadi seorang yang tak terkendalikan 
Aku sebagai raja
Raja yang akan selalu memerintah
Mencoba membalas tentang semua yang ada
Menunjuk dengan segala kebengisan
Aku tiba-tiba tersentak kaget
Saat pintu itu terbuka
Aku perlahan menjadi ketakutan
Seorang wanita berbaju putih masuk dengan membawa nampan “saatnya untuk minum obat.” Ucap wanita itu
Aku tersenyum sinis
Menggenggam sebuah pisau yang ku sembunyikan dibelakang punggungku.

Jika Kamu Masih Tidak Mengerti..

Kamu bisa saja mengatakan bahwa kamu mencintaiku
tapi
Pernahkah kamu mengerti semua keinginanku?
Aku tahu aku cukup egois dengan semua hal yang aku inginkan dari kamu
Tapi coba kamu pikirkan, apa yang pernah aku minta dari kamu?
Aku bukan perempuan yang gila harta yang hanya ingin kemewahan
Bukankah aku sudah pernah katakan bahwa aku bersedia hidup sederhana bersamamu?
Yang aku inginkan hanya satu
Yaitu

Saturday, January 25, 2014

Thompson's Story #0



“Nona Thompson, kau harus bangun. Kau akan terlambat ke kelas nanti.” Ujar Sheila, asisten Ashley Thompson.
             “Hoooaaammm, aku lelah. Kenapa sekolah tidak libur saja? Khusus hari ini saja dan khusus untukku.” Kata Ashley, hanya membetulkan posisi tidurnya.
             “Kau bermimpi, nona.”
             “Jangan panggil aku nona, aku bahkan lebih muda 2 tahun darimu. Aku bukan bermimpi, tapi aku hanya berharap untuk segera berlibur Sheila.”
                                                                                 _______________
             “Aku butuh berlibur.” Kata Ashley, sambil menyeruput secangkir kopinya.
             “Hmm.” Gumam Roxy.
             “Aku ingin mengajakmu, bagaimana kalau Paris?” Kata Ashley bersemangat. “Musim panas nanti ya? Temani aku.”
             Roxy menggeleng, “aku punya resital untuk permainan celloku. Maaf ya adik kecil.”
             “Selalu cello, Andrew juga sangat sibuk dengan kariernya. Kenapa sih aku tidak punya kakak yang sekali saja peduli padaku? Huft.” Gerutu Ashley.
             “Ini karierku, ku yakin kau juga akan begitu hmm ketika masuk Juilliard.”
             “Aku tidak seperti keluarga ini, aku tidak punya bakat apapun. Sudahlah aku malas membahasnya.”
             “Kau penulis yang handal, kau juga punya bakat yang terpendam.”
             “Simpan omong kosongmu itu.” Kata Ashley, meninggalkan Roxy.
                                                                                 _______________
             Pernahkah kau tahu saat rasanya hidup sendiri di dunia ini? Saat semua yang kau rasa hanya sesaat. Sepi. Sunyi. Dan hanya ada aku. Dan kupikir aku salah berdiri disini. Ini bukan duniaku. Gelap, saat aku membuka mata. Hanya hampa. Berusaha untuk berlari dari kenyataan yang tak lagi sama, dan membutakan. Membutakan segala indra. Saat aku mulai terjatuh dan tak bisa lagi untuk berdiri.
                                                                                 _______________
             Malam itu, Ashley hanya termenung.  Dia benci karena harus ada di keluarga seperti ini. Keluarga dengan minat seni yang tinggi. Dan hanya dia yang belum menemukan bakat pada seni.
             Dulu sama seperti kedua kakaknya, Roxy dan Andrew,  Ashley banyak berlatih pada alat musik tapi tak satupun yang ia kuasai dengan baik.
             Mr. Thompson adalah seorang pelukis. Mrs. Thompson seorang violin handal. Andrew Thompson seorang aktor ternama. Dan, Roxyanne Thompson adalah seorang pemain cello.
             Aku rindu Andrew, sejak dia berjanji setelah kelulusan itu aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya.
             Ashley bingung, dia agak ragu ketika ingin menelepon Andrew.
             “Halo?” terdengar suara seorang laki-laki disana, Andrew, kakak kesayangan Ashley.
             “Andrew? Ini aku, Ashley.” Ujarnya bersemangat.
             “Ashley? Apa kabar?” Suara Andrew terkesan dingin.
             “Kau kenapa? Suaramu sedikit aneh?”
             “Aku sedang sibuk, nanti aku telepon kau lagi.” Andrew menutup telepon dengan tergesa-gesa.
             “Tapi, hei tunggu....... Aaaaaarrggghhh.... “ Ashley membanting telepon genggamnya, dia mendengus kesal.
                                                                                 _______________
             Siang ini, Mrs. Jennie tidak masuk kelas. Lagipula, kelasnya membosankan dan hanya kelas mimpi. Siapa yang peduli menganalisis mimpi yang terjadi dan menjadikannya sebuah ide untuk karya tulis? Siapa yang tertarik? Mimpi itu hanya untuk dinikmati, bukan untuk dijadikan hal yang relevan.
             “Aku ingin ke Paris.” Ucap Ashley memelas.
             “Kapan?” Tanya July, sahabat Ashley.
             “Nanti, musim panas.”
             “Have fun, jangan lupa bawa kan aku oleh-oleh dari sana.”
             “Aku mengajakmu, bodoh.” Ashley agak kesal.
             “Oh hahaha, aku pikir kau hanya memberitahuku.”
             “Ya tuhan, kau sangat tidak peka.”
                                                                                 _______________
             “Sheila..” Panggil Ashley.
             “Hmm?”
             “ Kau yakin Andrew tidak dalam masalah? Sudah 2 tahun dia tidak memberikan kabar.”
             “Dia hanya lelah, mungkin. Dia aktor yang hebat dan pasti dia selalu sibuk.” Kata Sheila memastikan.
             “Tapi, tidak biasanya. Ada yang aneh.”
             “Kau selalu berpikiran negatif.”
             “Aku ingin ke Paris?”
             “Dengan siapa?” Tanya Sheila.
             “ July, dan tentu saja kau.” Ashley tersenyum.
             “Kau ingin kemana? Mengunjungi Andrew?”
             “Awalnya iya, tapi sekarang tidak. Aku tidak ingin mengganggu kesibukannya.  Mungkin dia terlalu sibuk sampai tak bisa menjawab telepon dariku.” Jawab Ashley lemah. Sheila menepuk bahu Ashley.
             Aku ingin keadaan yang seperti dulu saat semuanya masih normal, gumam Ashley.