Tuesday, July 4, 2017

Saturday, July 1, 2017

Cerita si jalang. #2

Akhirnya si jalang menitikkan airmatanya juga.
Tanpa henti.
Dia telah jatuh cinta begitu dalam.
Tanpa menyadarinya.
Dia memang si jalang.
Yang cintanya tak akan bertahan lama.
Namun nyatanya dia terperosok.
Tak bisa bangkit lagi.
Tak ada lagi yang merengkuhnya.
Si jalang terseok sendiri.
Harusnya dia sadar bahwa sandarannya telah hilang.
Harusnya dia tahu kesalahannya lah yang mengakibatkan dirinya sakit.
Dia berusaha tegar.
Seperti biasa, senyumnya selalu tampak mewah.
Walaupun raga sudah kosong tak berpenghuni.
Si jalang yang berharap namun enggan mengatakan.
Si jalang yang tahu jika dirinya lah yang lemah namun enggan memohon.
Si jalang yang tahu dirinya terkikis perlahan tak kunjung sembuh.
Cinta telah menusuk si jalang tajam.
Tanpa belas kasihan.
Memanggil karma yang secepat kilat datang.
Si jalang enggan untuk marah.
Dia tahu bagaimana rasa mengkhianati.
Si jalang yang egois.
Enggan melepaskan, namun enggan untuk dimiliki.
Si jalang yang sudah menyerah.
Melepaskannya, namun tak mampu menghapus kenangan.

Tuesday, June 20, 2017

Cerita si jalang. #1

Jangan jatuh cinta pada si jalang ini.
Cintanya tak akan pernah satu.
Menghilir kesana kemari mencari bara.
Sentuhannya memabukkanmu.
Khayalan yang tiada henti akan menghantuimu.
Si jalang yang menawan.
Semua menatap iri melihatnya.
Bisikan-bisikan kotor menggumamkan tentangnya.
Si jalang, tahu. Selalu tahu.
Namun tersenyum sinis.
Memulai pertikaian kecil bagi pembencinya.
Membalas balik, katanya.
Mencoba melihat siapa yang hancur.
Si jalang yang tampak polos.
Sebenarnya benar-benar polos.
Namun lukanya tak kunjung tertutup.
Mencari tahu setiap kemungkinan yang ada.
Tiap malam terisak.
Ditemani ukiran indah pada lengannya.
Memainkan tiap tetes darah dirinya yang begitu menenangkan.
Si jalang yang begitu mencintainya.
Si jalang yang sebenarnya bukan jalang.

Tuesday, April 4, 2017

Nikmati, saja. #5

Bagaimana ini?
Aku terlalu merindukanmu.
Sesaknya tak kunjung henti.
Mataku tak kunjung kering.
Biasa.
Bertemu tanpa sapa denganmu.
Biasa.
Kamu melewatiku layaknya angin yang menerpa.
Biasa.
Bahwa hanya aku yang selalu berusaha melirikmu.
Rinduku tanpa henti.
Berusaha selalu untuk merengkuhmu.
Tatap saja mataku.
Itu cukup.
Sekedar untuk mengobati ruang rindu yang ada.
Tanpa harus aku rindukan pelukan hangat dirimu.