Tuesday, October 25, 2016

Nikmati, saja. #4

Jika menghadapi ini semua adalah persyaratan agar dapat merengkuhmu.
Lagi.
Aku akan berjuang.
Bodoh, bukan?
Tergila-gila padamu.
Yang bahkan kamupun enggan menoleh kepadaku.
Yang bahkan kamupun terus melangkah dihadapanku.
Hembusan angin terus mengingatkanku akan kamu.
Katanya hati-hati.
Hati-hati hatiku akan patah lagi.
Hati-hati mataku akan basah lagi.
Hati-hati aku akan terus jatuh cinta lagi.
Padamu.
Malampun selalu berbisik padaku.
Bintang-bintang lainnya sudah menemani kamu.
Bintang-bintang lainnya sudah membuat kamu tertawa.
Bintang-bintang lainnya sudah menyadarkan dirinya pada pundak kamu.
Bukankah sudah waktunya untuk menyerah?
Gemerisik tetesan hujanpun selalu berkabar tentang kamu.
Enggannya dia jatuh membasahi kamu.
Enggannya dia jatuh membasahi orang yang kamu sayangi.
Bukan karena tetesan hujan peduli padamu.
Namun tetesan hujan mengerti apa yang aku rasakan.
Melihatmu bahagia adalah hal yang utama.
Terlihat bahagia didepan kamu juga adalah hal yang utama.
Karena yang terlihat bahagia bukan berarti selalu baik-baik saja, kan?
Jika saja aku bisa berikan satu pelukan hangat untukmu.
Sesudahnya?
Aku menyerah.
Aku menyadari sebanyak apapun aku berjuang memang tidak ada tempat untukku.
Terlalu melankolis, bukan?
Cinta memang tidak harus memiliki, kan?
Jangan lupa untuk bahagia.

Monday, October 3, 2016

Nikmati, saja. #3

Gemuruh dalam dada ini begitu berisik, bukan?
Memberontak berusaha mengatakan aku jatuh cinta padamu lebih dalam lagi.
Jangan tanyakan aku.
Aku baik-baik saja.
Selalu terbaik melewati masa-masa seperti ini.
Semilir angin selalu kutitipkan salam untukmu agar menjagamu selalu hangat.
Teriknya matahari yang kubisikkan padanya agar tidak membuatmu kepanasan.
Rintiknya hujan yang kukecupkan pada tanah agar tidak membuatmu kedinginan.
Katanya aku sedang jatuh cinta.
Terlihat dari tatapanku.
Begitu menggebu ketika melihatmu.
Begitu pedulinya padamu hingga sakitnya dirimu rasanya seperti menyanyat diriku sendiri.
Katanya aku sedang jatuh cinta.
Terbutakan oleh prioritas dirimu.
Terbutakan oleh sajak-sajak yang aku buat sendiri tentangmu.
Katanya aku sedang jatuh cinta.
Terlalu dalam.
Namun dirimu hanyalah sebatas angin.
Yang tak bisa kusentuhkan namun dapat kurasakan.
Yang tak bisa kugapai namun aku memiliknya diam-diam.
Nikmati, saja.
Ambiguitas ini ketika aku sedang jatuh cinta.
Padamu.