Jika menghadapi ini
semua adalah persyaratan agar dapat merengkuhmu.
Lagi.
Aku akan berjuang.
Bodoh, bukan?
Tergila-gila padamu.
Yang bahkan kamupun
enggan menoleh kepadaku.
Yang bahkan kamupun
terus melangkah dihadapanku.
Hembusan angin terus
mengingatkanku akan kamu.
Katanya hati-hati.
Hati-hati hatiku akan
patah lagi.
Hati-hati mataku akan
basah lagi.
Hati-hati aku akan
terus jatuh cinta lagi.
Padamu.
Malampun selalu
berbisik padaku.
Bintang-bintang
lainnya sudah menemani kamu.
Bintang-bintang
lainnya sudah membuat kamu tertawa.
Bintang-bintang
lainnya sudah menyadarkan dirinya pada pundak kamu.
Bukankah sudah
waktunya untuk menyerah?
Gemerisik tetesan
hujanpun selalu berkabar tentang kamu.
Enggannya dia jatuh
membasahi kamu.
Enggannya dia jatuh
membasahi orang yang kamu sayangi.
Bukan karena tetesan hujan
peduli padamu.
Namun tetesan hujan
mengerti apa yang aku rasakan.
Melihatmu bahagia
adalah hal yang utama.
Terlihat bahagia
didepan kamu juga adalah hal yang utama.
Karena yang terlihat
bahagia bukan berarti selalu baik-baik saja, kan?
Jika saja aku bisa
berikan satu pelukan hangat untukmu.
Sesudahnya?
Aku menyerah.
Aku menyadari sebanyak
apapun aku berjuang memang tidak ada tempat untukku.
Terlalu melankolis,
bukan?
Cinta memang tidak
harus memiliki, kan?
Jangan lupa untuk
bahagia.