Monday, January 27, 2014

Antara Mimpi dan Realita #5

27.
Aku menjadi korban
Terikat pada sebuah ranjang
Berada di ruangan putih
Tercium bau menyengat dari obat-obat
Aku mengerjapkan mata
Aku berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya
Aku berusaha memberontak
Lalu mereka yang berpakain putih datang dengan cepat
Menyuntikkan sesuatu sehingga aku semakin melemah
Mataku perlahan menutup
Samar-samar ada bayangan dia dan kedua orangtuaku 
Samar-samar ada dua pribadi yang saling bertentangan 


28. 
Aku tidak bisa membedakannya apa ini sebuah realita atau mimpi 
Tapi aku berada di suatu tempat 
Jauh di sana 
Dengan cahaya yang terang 
Aku tersenyum manis 
Ada sebuah rasa bahagia 
Ada rasa ketenangan 
Nyaman 
Rasanya semua sudah selesai 
Cukup sampai disini 
Membuat sebuah sejarah 
Tanpa meneteskan airmata S
udah bertahan untuk kuat 

29. 
Aku di wawancara dengan segudang pertanyaan bodoh, cuih 
Mereka pikir aku depresi karena kecelakaan itu 
Bodoh, aku malah bahagia karena kejadian itu 
Mereka mengatakan aku mempunyai banyak kepribadian 
Omong kosong 
Mereka mengatakan aku sedang sakit 
Hey, kalian pikir segitu bodohnya aku? 
Aku tahu kalian mengganggapku gila 
Pandangan kalian mengatakan semuanya 
Sudah kukatakan bukan? 
Aku kacau, sangat kacau 
Bukan gila 
Aku waras, penuh dengan logika 
Tapi hanya mengikuti emosi yang memuncak 

30. 
Aku disini 
Duduk di balik sebuah jeruji 
Dengan tangan terikat 
Layaknya seorang sandera 
Aku tersenyum sinis 
Lelah untuk memberontak 
Aku sisi yang jahat 
Mengambil alih dari tubuh ini 
Menciptakan adanya kekuatan untuk bisa menghadapi segalanya 
Berusaha untuk kabur 
Lenyap Memutar otak 
Aku tertawa lepas 
Untuk segala kepenatan yang ada 
Untuk membebaskan jiwa yang terkunci 
Untuk menjadi seorang yang tak terkendalikan 
Aku sebagai raja
Raja yang akan selalu memerintah
Mencoba membalas tentang semua yang ada
Menunjuk dengan segala kebengisan
Aku tiba-tiba tersentak kaget
Saat pintu itu terbuka
Aku perlahan menjadi ketakutan
Seorang wanita berbaju putih masuk dengan membawa nampan “saatnya untuk minum obat.” Ucap wanita itu
Aku tersenyum sinis
Menggenggam sebuah pisau yang ku sembunyikan dibelakang punggungku.

No comments:

Post a Comment