Aku hanya ingin kembali menjadi hanya seorang anak 8
tahun dan masih memiliki keluarga yang indah.
“Rambutmu berantakan.” Kata Roxy.
“Lalu aku harus apa?” Tanya ku.
“Tata rambutmu keatas.”
“Aaaaah sulit, aku tidak bisa ... “ Keluhku.
“Sini, aku yang rapikan.” Andrew dengan sigap langsung
menata rambutku.
“Kau, waw ini hebat.” Ucapku takjub melihat tataan
rambut hasil kerja Andrew.
Siang itu, ada pameran Mr. Thompson di galeri pribadinya. Banyak tamu yang datang, mulai dari pengamat lukisan hingga para wartawan. Tema pada pameran ini adalah “Life on The Street”. Potret tentang kehidupan di pinggir jalan.
Siang itu, ada pameran Mr. Thompson di galeri pribadinya. Banyak tamu yang datang, mulai dari pengamat lukisan hingga para wartawan. Tema pada pameran ini adalah “Life on The Street”. Potret tentang kehidupan di pinggir jalan.
“Aku benci saat banyak wartawan datang.” Kata Andrew
tiba-tiba.
“Ha? Kau yakin?” Tanyaku kaget, Andrew menggangguk
mantap.
“Tapi, kau akan jadi aktor? Kau pasti akan bertemu
wartawan.”
“Aku benci wartawan, bukan berarti keinginanku menjadi aktor
akan terabaikan.” Jelas Andrew.
“Hmm, oke. Aku mengerti.” Sahutku pura-pura mengerti.
Saat itu aku, tidak pernah tau apa alasan Andrew
membenci wartawan. Bagiku, Andrew sosok kakak yang sempurna. Dia selalu ada
untukku, tidak seperti Roxy. Sejak
pameran itu, kami –aku, Ashley, Andrew berlatih mencari bakat kami. Kami disibukkan untuk berlatih. Sampai
akhirnya, Roxy menaruh minat pada cello dan Andrew memang menunjukkan
kemampuannya menjadi seorang aktor. Hanya aku yang tidak menaruh minat apapun
pada seni.
Andrew selalu menasihatiku, kalau aku pasti punya bakat
yang kuat. Awalnya aku percaya tapi setelah Andrew berniat untuk masuk
Juilliard dan meninggalkanku dengan keluarga itu, tekadku perlahan memudar.
Roxy tidak pernah jadi sosok kakak yang baik, dia terlalu sibuk dengan cellonya
hingga lupa dengan adik kecilnya ini. Hanya Andrew yang sempurna.
“Kau harus bisa masuk Juilliard, bukan karena nama
keluarga Thompson tapi karena bakatmu karena kepercayaan dirimu. Kau pasti
bisa, aku yakin itu.” Ucap Andrew sebelum berangkat ke Juilliard.
Saat hari-hari pertama Andrew di Juilliard, dia selalu
mengirimkan pesan bahwa disana sangat menyenangkan. Dia yakin aku akan jadi
seseorang yang hebat disana. Akupun jadi jarang pulang kerumah. Aku benci
merasa tidak dianggap diantara mereka hanya karena aku tidak tau apapun tentang
seni. Ketika aku menginjak 15 tahun, aku mengenal July. Lalu, aku lebih sering
menginap di rumah July terkadang juga aku mengajak Sheila.
Ada perasaan aneh ketika Andrew pergi, ntahlah rasanya
sangat sakit. Sheila pernah memperingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengan
Andrew. Dekat dalam arti lain, tapi aku percaya. Aku hanya mengiyakan tapi
tidak menghiraukannya.
_______________
Sore itu, Andrew kembali dari Juilliard karena lusa
adalah hari kelulusannya. Dia mulai berkemas, aku hanya menatapnya.
“Aku akan memulai karirku. Setelah kelulusan aku akan ke
Paris, ada sebuah managemen terkenal yang telah mengontrakku.” Ujar Andrew
memecah keheningan.
“Kau akan meninggalkan aku lagi kan?” tanyaku. Andrew
menggeleng. “Bohong.” Aku berusaha menahan tangisku.
“2 tahun lagi kau akan masuk Juilliard, aku
meninggalkanmu hanya untuk bekerja.”
“Aku ingin ikut denganmu.” Bujukku.
“Tidak bisa, bocah kecil.” Andrew mengelus rambutku,
lembut. “Lusa adalah hari kelulusanku, aku tidak mau kau terlihat lusuh seperti
ini. Suatu saat kau akan dewasa, kau tidak bisa terus bergantung padaku.” Ujar
Andrew.
Aku hanya menunduk, airmataku mengalir. Perasaan itu
datang lagi, lebih sakit dari sebelumnya. Setelah Andrew pergi dengan karirnya,
aku baru sadar ada yang salah pada diriku dan diri Andrew.

No comments:
Post a Comment