Tuesday, January 28, 2014

Thompson's Story #1

KENANGAN SAAT ITU... _ashley




             Aku hanya ingin kembali menjadi hanya seorang anak 8 tahun dan masih memiliki keluarga yang indah.
             “Rambutmu berantakan.” Kata Roxy.
             “Lalu aku harus apa?” Tanya ku.
             “Tata rambutmu keatas.”
             “Aaaaah sulit, aku tidak bisa ... “ Keluhku.
             “Sini, aku yang rapikan.” Andrew dengan sigap langsung menata rambutku.
             “Kau, waw ini hebat.” Ucapku takjub melihat tataan rambut hasil kerja Andrew.

             Siang itu, ada pameran Mr. Thompson di galeri pribadinya. Banyak tamu yang datang, mulai dari pengamat lukisan hingga para wartawan. Tema pada pameran ini adalah “Life on The Street”. Potret tentang kehidupan di pinggir jalan.
             “Aku benci saat banyak wartawan datang.” Kata Andrew tiba-tiba.
             “Ha? Kau yakin?” Tanyaku kaget, Andrew menggangguk mantap.
             “Tapi, kau akan jadi aktor? Kau pasti akan bertemu wartawan.”
             “Aku benci wartawan, bukan berarti keinginanku menjadi aktor akan terabaikan.” Jelas Andrew.
             “Hmm, oke. Aku mengerti.” Sahutku pura-pura mengerti.
             Saat itu aku, tidak pernah tau apa alasan Andrew membenci wartawan. Bagiku, Andrew sosok kakak yang sempurna. Dia selalu ada untukku, tidak seperti Roxy.  Sejak pameran itu, kami –aku, Ashley, Andrew berlatih mencari bakat kami.  Kami disibukkan untuk berlatih. Sampai akhirnya, Roxy menaruh minat pada cello dan Andrew memang menunjukkan kemampuannya menjadi seorang aktor. Hanya aku yang tidak menaruh minat apapun pada seni.
             Andrew selalu menasihatiku, kalau aku pasti punya bakat yang kuat. Awalnya aku percaya tapi setelah Andrew berniat untuk masuk Juilliard dan meninggalkanku dengan keluarga itu, tekadku perlahan memudar. Roxy tidak pernah jadi sosok kakak yang baik, dia terlalu sibuk dengan cellonya hingga lupa dengan adik kecilnya ini. Hanya Andrew yang sempurna.
             “Kau harus bisa masuk Juilliard, bukan karena nama keluarga Thompson tapi karena bakatmu karena kepercayaan dirimu. Kau pasti bisa, aku yakin itu.” Ucap Andrew sebelum berangkat ke Juilliard.
             Saat hari-hari pertama Andrew di Juilliard, dia selalu mengirimkan pesan bahwa disana sangat menyenangkan. Dia yakin aku akan jadi seseorang yang hebat disana. Akupun jadi jarang pulang kerumah. Aku benci merasa tidak dianggap diantara mereka hanya karena aku tidak tau apapun tentang seni. Ketika aku menginjak 15 tahun, aku mengenal July. Lalu, aku lebih sering menginap di rumah July terkadang juga aku mengajak Sheila.
             Ada perasaan aneh ketika Andrew pergi, ntahlah rasanya sangat sakit. Sheila pernah memperingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengan Andrew. Dekat dalam arti lain, tapi aku percaya. Aku hanya mengiyakan tapi tidak menghiraukannya.
                                                                                 _______________
             Sore itu, Andrew kembali dari Juilliard karena lusa adalah hari kelulusannya. Dia mulai berkemas, aku hanya menatapnya.
             “Aku akan memulai karirku. Setelah kelulusan aku akan ke Paris, ada sebuah managemen terkenal yang telah mengontrakku.” Ujar Andrew memecah keheningan.
             “Kau akan meninggalkan aku lagi kan?” tanyaku. Andrew menggeleng. “Bohong.” Aku berusaha menahan tangisku.
             “2 tahun lagi kau akan masuk Juilliard, aku meninggalkanmu hanya untuk bekerja.”
             “Aku ingin ikut denganmu.” Bujukku.
             “Tidak bisa, bocah kecil.” Andrew mengelus rambutku, lembut. “Lusa adalah hari kelulusanku, aku tidak mau kau terlihat lusuh seperti ini. Suatu saat kau akan dewasa, kau tidak bisa terus bergantung padaku.” Ujar Andrew.
             Aku hanya menunduk, airmataku mengalir. Perasaan itu datang lagi, lebih sakit dari sebelumnya. Setelah Andrew pergi dengan karirnya, aku baru sadar ada yang salah pada diriku dan diri Andrew.

No comments:

Post a Comment