Thursday, January 23, 2014

Antara Mimpi dan Realita #4

21.
Aku terduduk disudut kamar
Menutup kedua telingaku
Sakit
Teriakan
Amarah
Membuatku setengah frustasi
Mereka bertengkar, lagi, dan lagi
Mati sajalah mereka berdua
Selalu saja membuat hidupku susah
Tubuhku gemetar
Aku kembali kehilangan waktu
Berapa lama waktu yang aku butuhkan?
Sehari, seminggu, setahun?
Atau tidak pernah sama sekali
Kali ini aku mengalah
Aku mengikuti mereka untuk pergi kerumah sakit
Psikiater? Huft
Mereka berkata aku gila tapi secara lembut
Mereka bilang aku mempunyai sedikit gangguan
Omong kosong
Aku tidak gila, hanya sedikti kacau. Mengerti!

22.
Aku bingung
Ketika dia tiba-tiba datang mendekati ku
Lalu menggenggam tanganku dan mengajakku melangkah
Rasanya dunia ini hanya milik kami
Semua mata memandang sinis
Persatuan antara raja api dan ratu dingin
Aneh
Tapi nyata
Sejak kapan aku berani mendekatinya?
Aku mulai menikmati hidup ini
Walau kehilangan waktu, aku mendapatkan yang aku mau
Beruntung

23.
Setelah kejadian tadi, rasanya aku baru saja mengalami arti kehidupan yang sesungguhnya
Bahagia, tanpa tekanan
Rasanya seperti ada sesuatu dalam perutku
Sebuah kupu-kupu
Indah
Aku tidak pernah bisa mengukir kenangan ini
Aku hanya akan mengingatnya hingga nanti
Bahkan sampai aku akan mati
Lamunanku buyar
Saat pintu kamarku diketuk dengan keras
“Hey, cepat buka!!”
Aku mencemooh dalam hati, tetap diam
Ketukannya perlahan berubah menjadi gedoran-gedoran keras yang memekakkan telinga
Namun aku tak bergeming
Aku hanya terduduk memeluk kedua lututku dengan gemetar
Aku merasa inilah akhir kehidupanku

24.
Aku sangat terpuruk
Waktu membuatku lelah
Aku kembali melayang
Hanya sebagai pemerhati
Berdiri di sudut ruangan
Menatap sinis
Tiba-tiba pandanganku mengabur
Aku berlari, terisak
Terjerembab jatuh
Mengais-ngais untuk kembali normal
Suara itu mengalun perlahan merasuk kedalam
Aku terhanyut
Melodi-melodi kembali memanggilku
Aku terdiam
Berada diruang hampa
Berusaha teriak
Tapi suaraku tertahan tepat di tenggorokkan
Aku terbaring dikasur dengan rasa ketakutan
Keringat dingin mengalir pada tubuhku
Suara deringan telepon mengagetkanku

25.
Suara telepon dari seseorang yang tidak ku kenal
“halo”
“iya?”
“mom?”
“apakah ini Sam?”
“ya, ini saya.  Maaf, ini siapa ya?”
“orangtua anda mengalami kecelakaan, kebetulan saya salah satu orang yang membantu orangtua anda. Mereka sedang dibawa perjalanan ke rumah sakit terdekat”
Aku hanya terdiam
Telepon yang aku genggam terjatuh
Sebagai seorang anak yang normal, seharusnya aku segera berlari menuju rumah sakit itu
Tapi aku tidak bergeming sama sekali
Sakitnya rasanya, layaknya ada sesuatu yang runtuh dalam tubuh ini
Aku mencoba berpikir logis
Namun, jiwaku tak mengijinkannya
Ada perdebatannya di dalam tubuhku
Perlahan, aku tersenyum. Sinis
Rasanya merdeka
Bangkit dari keterpurukan
Tanpa pertengkaran, tanpa caci maki
Mungkin kalian pikir aku gila
Tapi bukan, aku hanya mengekspresikan apa yang sebenarnya terjadi

26.
Pagi itu matahari tidak memancarkan sinarnya
Bersembunyi di balik gelapnya awan
Angin berhembus perlahan, menyebarkan bau embun yang masih bertahan
Suasana pagi itu berkabung
Gelap
Penuh duka
Aku berdiri di samping makam
Tanpa tangisan
Aku sendiri sebenarnya enggan untuk datang
Tapi beberapa orang menjemputku
Mengucapkan aku harus bersabar
Eh
Kalian pikir aku sangat lemah?
Aku bisa bertahan tanpa mereka bahkan akan lebih kuat
Perlahan satu per satu orang meninggalkan pemakaman dengan menepuk pundakku
Terkadang mereka membisikkan kata yang sama
Aku mual berada di sana
Di tengah-tengah wilayah yang membuatku merasa terkucil
Aku berusaha meredam emosi
Kepalaku seakan mau pecah
Pandanganku memudar

Dan aku merasa seakan sedang melayang

No comments:

Post a Comment