21.
Aku
terduduk disudut kamar
Menutup
kedua telingaku
Sakit
Teriakan
Amarah
Membuatku
setengah frustasi
Mereka
bertengkar, lagi, dan lagi
Mati
sajalah mereka berdua
Tubuhku
gemetar
Aku
kembali kehilangan waktu
Berapa
lama waktu yang aku butuhkan?
Sehari,
seminggu, setahun?
Atau
tidak pernah sama sekali
Kali
ini aku mengalah
Aku
mengikuti mereka untuk pergi kerumah sakit
Psikiater?
Huft
Mereka
berkata aku gila tapi secara lembut
Mereka
bilang aku mempunyai sedikit gangguan
Omong
kosong
Aku
tidak gila, hanya sedikti kacau. Mengerti!
22.
Aku
bingung
Ketika
dia tiba-tiba datang mendekati ku
Lalu
menggenggam tanganku dan mengajakku melangkah
Rasanya
dunia ini hanya milik kami
Semua
mata memandang sinis
Persatuan
antara raja api dan ratu dingin
Aneh
Tapi
nyata
Sejak
kapan aku berani mendekatinya?
Aku
mulai menikmati hidup ini
Walau
kehilangan waktu, aku mendapatkan yang aku mau
Beruntung
23.
Setelah
kejadian tadi, rasanya aku baru saja mengalami arti kehidupan yang sesungguhnya
Bahagia,
tanpa tekanan
Rasanya
seperti ada sesuatu dalam perutku
Sebuah
kupu-kupu
Indah
Aku
tidak pernah bisa mengukir kenangan ini
Aku
hanya akan mengingatnya hingga nanti
Bahkan
sampai aku akan mati
Lamunanku
buyar
Saat
pintu kamarku diketuk dengan keras
“Hey,
cepat buka!!”
Aku
mencemooh dalam hati, tetap diam
Ketukannya
perlahan berubah menjadi gedoran-gedoran keras yang memekakkan telinga
Namun
aku tak bergeming
Aku
hanya terduduk memeluk kedua lututku dengan gemetar
Aku
merasa inilah akhir kehidupanku
24.
Aku
sangat terpuruk
Waktu
membuatku lelah
Aku
kembali melayang
Hanya
sebagai pemerhati
Berdiri
di sudut ruangan
Menatap
sinis
Tiba-tiba
pandanganku mengabur
Aku
berlari, terisak
Terjerembab
jatuh
Mengais-ngais
untuk kembali normal
Suara
itu mengalun perlahan merasuk kedalam
Aku
terhanyut
Melodi-melodi
kembali memanggilku
Aku
terdiam
Berada
diruang hampa
Berusaha
teriak
Tapi
suaraku tertahan tepat di tenggorokkan
Aku
terbaring dikasur dengan rasa ketakutan
Keringat
dingin mengalir pada tubuhku
Suara
deringan telepon mengagetkanku
25.
Suara
telepon dari seseorang yang tidak ku kenal
“halo”
“iya?”
“mom?”
“apakah
ini Sam?”
“ya,
ini saya. Maaf, ini siapa ya?”
“orangtua
anda mengalami kecelakaan, kebetulan saya salah satu orang yang membantu orangtua
anda. Mereka sedang dibawa perjalanan ke rumah sakit terdekat”
Aku
hanya terdiam
Telepon
yang aku genggam terjatuh
Sebagai
seorang anak yang normal, seharusnya aku segera berlari menuju rumah sakit itu
Tapi
aku tidak bergeming sama sekali
Sakitnya
rasanya, layaknya ada sesuatu yang runtuh dalam tubuh ini
Aku
mencoba berpikir logis
Namun,
jiwaku tak mengijinkannya
Ada
perdebatannya di dalam tubuhku
Perlahan,
aku tersenyum. Sinis
Rasanya
merdeka
Bangkit
dari keterpurukan
Tanpa
pertengkaran, tanpa caci maki
Mungkin
kalian pikir aku gila
Tapi
bukan, aku hanya mengekspresikan apa yang sebenarnya terjadi
26.
Pagi
itu matahari tidak memancarkan sinarnya
Bersembunyi
di balik gelapnya awan
Angin
berhembus perlahan, menyebarkan bau embun yang masih bertahan
Suasana
pagi itu berkabung
Gelap
Penuh
duka
Aku
berdiri di samping makam
Tanpa
tangisan
Aku
sendiri sebenarnya enggan untuk datang
Tapi
beberapa orang menjemputku
Mengucapkan
aku harus bersabar
Eh
Kalian
pikir aku sangat lemah?
Aku
bisa bertahan tanpa mereka bahkan akan lebih kuat
Perlahan
satu per satu orang meninggalkan pemakaman dengan menepuk pundakku
Terkadang
mereka membisikkan kata yang sama
Aku
mual berada di sana
Di
tengah-tengah wilayah yang membuatku merasa terkucil
Aku
berusaha meredam emosi
Kepalaku
seakan mau pecah
Pandanganku
memudar
Dan
aku merasa seakan sedang melayang
No comments:
Post a Comment