Friday, March 13, 2015

OUT OF BOX - Sistem Pendidikan



Mungkin kita sudah sering sekali mendengar pertanyaan “Kalau sudah besar mau jadi apa?” atau “cita-citanya apa?”. Kenapa banyak sekali orang yang memberikan pertanyaan itu, tapi apa manfaatnya? Sekedar motivasikah? Namun, banyak bagian dari warga Indonesia yang tidak mencapai cita-citanya yang diidam-idamkan.

Beberapa hari yang lalu, ibu saya reuni dengan teman-teman smp nya. Mungkin dibawah ini merupakan cerita singkatnya.
                Teman ibu : “gue mah engga butuh anak gue pinter geografi lah atau biologi. Yang penting dia bisa baca, menghitung standar, dan baca, selebihnya gue les-in Bahasa inggris, Bahasa mandarin, dan computer. Gapapa nilai raportnya standar.”

Yang jelas ibu saya tertawa dengan opinin temannya, lalu teman ibu saya itu bertanya kepada ibu saya yang kebetulan berprofesi sebagai guru.

                Teman ibu : “ehh (nama ibu saya), lu jadi guru kan? Apaan yang lu ajarin ke murid-murid lu? Burung garuda nengoknya kemana, kanan? Atau rantai di burung garuda ada berapa? Ya yang sejenis gitu, kan?”
                Ibu saya : “ya iya sih.”
                Teman ibu : “emang pas kerja ditanyain begituan, apa? Ga tega gue liat anak gue kemaren belajar ngapalin rhizoma lah, padahal belom tentu dikerjaannya ditanyain gituan.”
Ketika ibu saya menceritakan hal tersebut, saya cukup tercengang. Mengapa? Karena setelah saya pikirkan, system pendidikan di Indonesia cukup rumit. Saya memang bukan orang yang pandai dalam hal pendidikan, namun dengan kacamata awam inilah saya dapat memberikan sedikit kritik. Terlebih lagi, saya merasakan bagaimana adik saya begitu kesusahan untuk mempelajari kurikulum yang ada.
Adanya penjurusan IPA, IPS, atau bahasa di sekolah menengah atas pada kenyataannya membuat perbedaan kasta diantara masyarakat.

Selain itu, misalkan seseorang anak jurusan IPA mengambil fakultas pendidikan jurusan matematika akankah dia ditanyakan “Apakah biji buah manga? Dikotil atau monokotil?”. Lalu apa gunanya kita sekolah SMA selama 3 tahun tapi ternyata ketika kuliah mata pelajaran yang kita pelajari di SMA tidak ditanyakan sama sekali walaupun satu peminatan (re: IPA, IPS, Bahasa). Disini saya akan memaparkan ide gila saya mengenai system pendidikan. Dimulai dengan system yang ada. 



Gambar diatas merupakan school-circle ala Indonesia. Bayangkan, kita sudah menghabiskan 12 tahun untuk sekolah standarisasi mengenai suatu ilmu saja.  Bahkan, belum tentu apa yang kita pelajari searah dengan passion kita.




School-circle ala saya adalah dimana seorang siswa hanya menghabiskan waktu 6 tahun untuk sekolah standarisasi, kemudian mereka langsung memasuki jenjang yang saya sebut dengan “peminatan”. Jenjang peminatan ini mungkin sama dengan kuliah, namun karena kita hanya memiliki 6 tahun ketika SD maka pada jenjang ini kita diajarkan penjurusan layaknya IPA, IPS, atau Bahasa tapi langsung terfokus akan pekerjaannya. Jadi, tidak ada lagi jenjang SMP atau SMA karena kita nanti akan mempelajari materi yang di ajarkan pada jenjang tersebut di jenjang peminatan. Selain itu, tidak ada seleksi seperti memasuki universitas pada umumnya. Peminat dapat langsung masuk ke jenjang peminatan dengan syarat melengkapi administrasi.

Menurut saya, dengan adanya system seperti ini kita dapat menghemat waktu dan kita akan lebih focus dengan apa yang kita pilih, apalagi jika pilihan itu merupakan passion kita sendiri.

Jadi, bagaimana menurut anda?


No comments:

Post a Comment