Mey terus saja menduduk menyusuri jalanan. Gerimis perlahan turun namun Mey tetap berjalan merunduk. Beruntung jalanan sudah terlalu malam sehingga tidak ada yang lewat, walaupun sebenarnya para peri punya kekuatan untuk tidak terlihat oleh manusia. Dia tidak bisa terbang tanpa sayapnya. Bagi peri, saat usia 17 tahun sayapnya akan mengembang semakin lebar & indah. Belum sehari Mey ulang tahun namun sayapnya sudah tidak bisa mengembang. Dulu meski sayapnya kecil dan belum berubah mejadi kaca, Mey selalu dapat pergi kemanapun.
Kesedihan yang Mey rasakan menyeruak, dia terisak sendiri dalam keheningan. Untuk pertama kali dalam hidupnya Mey menginginkan untuk dapat berbicara.
Pria itu berlari kebawah, dia benar merasakan ada seorang peri di kamarnya. Yang membuatnya begitu yakin ialah adanya sesuatu yang berkembang dengan sangat terang dan memantulkan cahaya persis seperti kaca.
Si pria sempat bergeming didepan pintu rumahnya. Apakah dia hanya bermimpi? Atau mungkin dia yang terlalu berhalusinasi?
Namun rasa penasarannya lebih besar sehingga dia langsung membuka pintu rumahnya. Dan benar saja, pecahan kaca berserakan di depan rumahnya.
Aneh, kaca tersebut begitu terang di tengah malam ini. Pancarannya seperti campuran warna, agak seperti warna pelangi namun warnanya lebih muda.
"Joe!! ngapain malam-malam diluar? Anginnya kencang seperti nya mau hujan." Ujar seorang perempuan paruh baya.
"Iya, ini mau masuk. Karena mau hujan makanya keluar, segar rasanya ada aroma hujan."
Joe langsung berlari menaiki anak tangga rumahnya sambil menggenggam beberapa pecahan benda yang terlihat seperti kaca itu. Walaupun terlihat seperti kaca, tangannya tidak tergores ketika membawanya.
---
Semua pandangan mengarah ke Mey. Baru kali ini mereka melihat sayap seorang peri dapat hancur begitu mudahnya. Mey dipanggil oleh para tetua peri, dia merunduk terus tidak berani menatap mereka.
Kala itu Mey duduk berhadapan dengan 5 Tetua Peri, Mey gemetaran ketakutan. Ini memang salahnya karena tidak melakukan hal yang seharusnya.
Ellen tetua peri yang terlihat paling ramah menggunakan bahasa isyarat, "Bagaimana ini bisa terjadi Mey?"
Mey tertunduk lalu membalas, "Aku terjatuh, Ellen. Begitu saja hingga sayapku hancur berkeping-keping."
"Namun, Mey kau tidak akan bisa hidup di dunia peri tanpa sayapmu." Ellen menjelaskan. Mey semakin merunduk, dalam.
Pete, seorang peri yang duduk disebelah Ellen membisikkan sesuatu.
"Hmm baik, Pete." Ellen terlihat menggangguk. "Atasan usulan dari Pete, kau seharusnya tinggal di dunia manusia dulu hingga sayapmu pulih. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan sayapmu kembali mengembang."
Mey terperangah. "Lalu bagaimana aku bisa hidup disana?" tanya Mey.
"Kami tetap menjagamu Mey, meskipun ini adalah konsekuensi yang harus kamu dapatkan karena tidak dapat menjaga dirimu sendiri. Namun kami akan memulihkan suaramu, semakin sembuh sayapmu semakin suaramu akan hilang nanti. Dan waktunya kau kembali ke dunia peri."
Mey merasa tidak yakin. Bahkan ketika suaranya muncul pun bagaimana bisa dia hidup di dunia yang tidak dia kenal. Setidaknya di dunia peri, semua dapat berbincang-bincang meskipun dengan cara yang berbeda.
Mey menggeleng keras. "Bagaimana jika aku menjadi peri penjaga buku saja? Bukankah lebih mudah tanpa perlu menggunakan sayap?"
"Tidak, Mey. Saya pikir di dunia manusia adalah pilihan yang terbaik." Ellen bersikeras. "Bagaimana dengan yang lainnya? Apakah setuju dengan usulan Pete?" Perlahan semua tetua peri menggangguk.
Mey sudah menyerah lebih dulu sebelum mencoba hidup di dunia manusia.
No comments:
Post a Comment